TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Rencana Induk Konektivitas ASEAN Diluncurkan
Laporan wartawan KOMPAS M Fajar Marta
Jumat, 17 Desember 2010 | 13:08 WIB

ist

HO CHI MINH CITY, KOMPAS.com — Rencana induk atau master plan Konektivitas ASEAN (ASEAN Connectivity) diluncurkan di Ho Chi Minh City, Jumat (17/12/2010). Cetak biru Konektivitas ASEAN ini akan diimplementasikan mulai 2011-2015.

Peluncuran tersebut berbarengan dengan simposium sosialisasi cetak biru Konektivitas ASEAN yang dihadiri perwakilan negara-negara ASEAN yang tergabung dalam Gugus Tugas Tingkat Tinggi (High Level Task Force) tentang Konektivitas ASEAN. Dalam gugus tersebut, Indonesia diwakili oleh Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono.

Bambang menjelaskan Konektivitas ASEAN merupakan inisiatif untuk meningkatkan konektivitas di antara negara-negara anggota ASEAN melalui keterhubungan fisik, kelembagaan, dan orang ke orang yang dirasakan penting dalam membangun komunitas bersama ASEAN.

Konektivitas ASEAN terdiri dari konektivitas fisik, konektivitas kelembagaan, dan konektivitas orang ke orang. Konektivitas fisik meliputi jaringan transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, serta energi. Konektivitas kelembagaan meliputi  fasilitasi dan liberalisasi perdagangan, perjanjian perdagangan ASEAN, standar dan kesesuaian, ASEAN single window, integrasi cukai, fasilitasi dan liberalisasi investasi, perjanjian komprehensif investasi ASEAN, liberalisasi jasa dan pengaturan pengenalan bersama (mutual recognition arrangemnets), perjanjian transportasi regional, serta program peningkatan kapasitas. Adapun konektivitas orang ke orang, meliputi pendidikan, budaya, dan pariwisata.

Wartawan Kompas, Fajar Marta, melaporkan dari Ho Chi Minh City,  peluncuran rencana induk merupakan kelanjutan dari pembahasan Konektivitas ASEAN dalam pertemuan tingkat tinggi pemimpin ASEAN ke-15 di Cha-am Hua Hin, Thailand, pada 24 Oktober 2009.

Ide meningkatkan konektivitas di kawasan ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi ekonomi dan masyarakat negara anggota ASEAN sekaligus berkontribusi dalam pembentukan komunitas bersama ASEAN 2015.

Selain itu, ide konektivitas ini juga untuk meningkatkan nilai strategis dari kawasan ASEAN yang berada pada jantung perekonomian dunia baru yang tengah tumbuh, berbatasan dengan India di barat, China-Korea-Jepang di timur utara, serta Australia-Selandia Baru di selatan.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Ekonomi Asean Sundram Pushpanathan mengatakan, meningkatkan konektivitas ASEAN juga akan memperkuat posisi ASEAN sebagai hub kawasan Asia Timur sekaligus mempertahankan peran sentralnya di kawasan Asia dan di dunia.

Smaller Reset Larger
Washington Times

Studi: Teknologi Informasi Bikin Manusia Hidup di

Orang-orang menikmati beselancar di Kafe Internet (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON–Kemudahan komunikasi yang ditawarkan teknologi abad 21 seperti surat elektronik dikhawatirkan peneliti di Inggris akan menjadikan manusia seolah hidup dalam “laboratorium percobaan”.

Nicholas Carr, mantan editor eksekutif dari Harvard Business Review mengatakan arus informasi secara berlebihan menjadikan komunikasi yang terbangun dalam interaksi sosial menjadi sia-sia. Artinya, manusia tidak butuh lagi berkomunikasi dengan manusia lain secara nyata lantaran disuapi arus informasi tangan kedua.

“Arus informasi yang berlebihan memungkinkan seseorang terkena sindrom Distribute Attention Disorder (DAD) atau sindrom terbaginya perhatian terhadap informasi,” papar Carr.

Ia menyebutkan berdasar data, sebagian besar pekerja kantoran memeriksa email mereka sampai 30 kali satu jam.  “Apa yang membuat pesan digital menjadi lebih menarik adalah ketidakpastian mereka. Selalu ada kemungkinan bahwa sesuatu yang penting sedang menunggu kita di kotak masuk,” papar dia seperti dikutip Dailymail, awal pekan.

Carr mengingatkan terhadap konsekuensi yang tak terlihat pada kesehatan otak manusia sebagai akibat kecanduan pesan digital. Perkataan Carr terbukti. Satu bulan terakhir ilmuwan paling terkemuka di negara itu telah memperingatkan kepada masyarakat ihwal obesesi terhadap situs jejaring sosial yang berpotensi merubah cara kerja otak seseorang.

Pakar tersebut, Susan Greenfield, meyakini penggunaan internet dalam batas berlebihan menyebabkan pendeknya rentang perhatian, mendorong kepuasan instan dan kehilangan rasa empati. Senada dengan Greenfield, pakar syaraf menyimpulkan teknologi diduga berada di balik peningkatan ‘mengkhawatirkan’ dalam gangguan perhatian dan pertumbuhan konsumsi obat anti-hiperaktif, Ritalin.

“Menggunakan mesin pencari untuk menemukan fakta-fakta mungkin menghalangi kemampuan kita untuk belajar. sementara permainan komputer mungkin membuat kita lebih sembrono,” ujarnya. “Kita harus mengendalikan kehidupan kita sendiri dan masyarakat. Jika kita tidak, siapa lagi yang akan memulainya,” imbuhnya.

Secara terpisah, Maryanne Wolf, ahli syaraf kognitif dari Tufts University of Massachusetts mengatakan cara kerja otak diasah melalui membaca buku akan hilang manfaatnya saat individu lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer. “Butuh waktu untuk berpikir secara mendalam tentang informasi dan kita akan menjadi terbiasa untuk pindah ke gangguan berikutnya,” pungkasnya.

 

<!–/ halaman berikutnya–>


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s